Laman

Senin, 25 Desember 2017

wanita berisiko tinggi kena stroke saat menstruasi dini

wanita berisiko tinggi kena stroke saat menstruasi dini,- Menstruasi merupakan siklus alami tubuh wanita yang tak bisa ditolak. Menstruasi terjadi ketika sel telur yang diproduksi tubuh wanita tiap bulannya tidak dibuahi sehingga akan luruh dan keluar.

Umumnya, wanita akan mendapatkan menstruasi pertama di usia 15 tahun. Tak jarang, ada pula wanita yang mengalami menstruasi dini atau bahkan terlambat.

Menurut penelitian yang dilansir dari boldsky.com, menstruasi yang terjadi terlalu awal yaitu di usia 13 tahun atau bahkan kurang akan menempatkan wanita pada risiko tinggi untuk terkena stroke dibandingkan dengan mereka yang mengalami menstruasi di usia normal.

Penelitian yang dilakukan di 1.412 wanita menopause di Jepang menemukan bahwa kasus kematian karena stroke cenderung terjadi pada mereka yang mendapatkan menstruasi di usia dini dan mengalami menopause di usia 45 tahun. Sedangkan wanita yang mengalami menopause di usia 50-an didiagnosis menderita gangguan infark serebral di otak.

"Selain hormon, menstruasi juga dipengaruhi oleh faktor genetik, keadaan tubuh, hingga riwayat kesehatan yang pernah dimiliki. Oleh karena itu perhatikan kondisi kesehatan dan saat kamu mengalami menstruasi pertama yang berfungsi untuk memprediksi gangguan penyakit atau sifat tubuh, termasuk kemungkinan stroke akan terjadi karena menstruasi dini.

Selasa, 12 Desember 2017

Ketahui cara baru deteksi stroke hanya dalam 10 menit

Ketahui cara baru deteksi stroke hanya dalam 10 menit,- Stroke saat ini telah menyerang banyak orang dan satu dari 80.000 bahkan meninggal. Pada kebanyakan kasus stroke yang terjadi, butuh waktu tiga jam untuk mendiagnosis satu kasus stroke. Untuknya, kini para ilmuwan kesehatan telah menemukan cara untuk mendeteksi stroke hanya dalam hitungan menit.

Roy Cohen, salah satu ilmuwan yang melakukan penelitian mengatakan bahwa tiga perempat dari penderita stroke mengalami stroke iskemi. Ini adalah istilah yang yang menunjukkan kondisi penyumbatan pembuluh darah di otak. Dalam kasus tersebut, waktu adalah hal yang sangat penting, karena untuk menyelamatkan seseorang obat harus diberikan dalam waktu tiga sampai empat jam setelah munculnya gejala. Pada saat seseorang memunculkan gejala, lalu kemudian perjalanan ke rumah sakit, atau bahkan menunggu di ruang gawat darurat akan memakan waktu untuk mendapatkan obat pada saat yang tepat.

Dokter biasanya akan melihat tanda dan gejala pada wajah, kelumpuhan pada bagian tubuh, riwayat kesehatan pasien, pemeriksaan fisik lainnya untuk mendiagnosis seseorang mengalami stroke atau tidak. Tes-tes yang dilakukan dapat berupa CT scan otak, MRI atau USG karotis untuk memeriksa penyumbatan arteri yang mengirim darah ke otak.

Sebuah terobosan baru ditawarkan oleh para peneliti dari Cornell University’s Baker Institute untuk Animal Health menciptakan bukti prinsip dari teknik sederhana yang memudahkan para dokter untuk mendeteksi biomarker stroke tertentu dalam darah pasien di samping tempat tidur mereka.

Para peneliti melakukan penelitian dengan melekatkan enzim pada nanopartikel dan kemudian mengirimkannya pada aliran darah manusia dan juga hewan. Tujuannya adalah untuk menemukan neuron-specific enolase (NSE), sebuah biomarker yang muncul pada cedera otak hingga kanker paru-paru. Ketika mereka melakukannya, enzim akan menyala dan memberitahukan letak serta jumlah dari NSE.

Dengan begitu mereka akan dengan mudah memberikan diagnosa stroke yang dialami oleh seseorang.Para peneliti berharap ke depannya mereka mampu menggunakan teknik mereka ini untuk uji klinis. Teknik ini pada akhirnya akan membantu dalam deteksi kondisi otak di luar stroke, termasuk gegar otak, demensia, kanker dan bahkan penyakit jantung.